gmc dewasa

gmc dewasa

Elly Risman: “Banyak Orangtua yang Tak Siap Jadi Orangtua”

Menjadi orangtua itu tidak mudah. Apalagi di zaman seperti sekarang ini. Mengemban amanah mengasuh dan mendidik anak hingga kelak mereka menjadi insan yang tangguh dan shalih adalah tugas yang maha berat.
Majalah Hidayatullah edisi September 2006
Rubrik FIGUR
Tulisan 1:
Mudahkah menjadi orangtua? Sebagian orang mungkin mengira demikian. Mereka kira, setelah menikah dan punya anak lantas mereka otomatis siap menjadi orangtua yang cakap dan baik. Kalau ada yang berfikir begitu berarti dia tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu.
Yang benar, menjadi orangtua itu tidak mudah. Apalagi di zaman seperti sekarang ini. Mengemban amanah mengasuh dan mendidik anak hingga kelak mereka menjadi insan yang tangguh dan shalih adalah tugas yang maha berat.

Kemampuan menjadi orangtua yang cakap dan baik tidak jatuh dari langit begitu saja, melainkan harus ditempuh dengan banyak belajar. Pelajaran pertama biasanya didapat dari orangtua para orangtua itu. Misalnya, jika si Fulan kini menjadi seorang ayah, maka cara si Fulan mendidik anak-anaknya biasanya mengikuti bagaimana cara ayah si Fulan dulu mendidik dirinya. Kalau si Fulan dulu dididik ayahnya dengan cara lemah-lembut, biasanya si Fulan juga akan mendidik anak-anaknya dengan cara lemah-lembut pula. Sebaliknya, kalau si Fulan dulu dididik ayahnya dengan cara kekerasan, biasanya si Fulan juga akan mendidik anak-anaknya dengan cara kekerasan pula. Jadi terjadi semacam pewarisan cara mendidik dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pelajaran kedua diperoleh dari lingkungan sosialnya. Bisa dari saudaranya, rekan-rekannya, gurunya, atau dari buku dan majalah yang dia baca. Pelajaran jenis kedua ini tidak kalah kuat pengaruhnya pada seseorang, tetapi berapa banyak pelajaran yang dia dapat sangat tergantung dari keaktifannya belajar dari lingkungan sosialnya itu.
Mereka yang aktif belajar, insya Allah, memiliki banyak khazanah pengetahuan tentang bagaimana mendidik dengan baik dan benar. Namun orangtua yang seperti ini jumlahnya sedikit saja ketimbang orangtua lain yang cuek, tak mau belajar. Kebanyakan hanya mengandalkan instink dan pelajaran dari orangtuanya dulu, meski pelajaran itu mungkin mengandung kekeliruan.
Akibatnya, dalam kehidupan sehari-hari banyak kita jumpai orangtua yang terkaget-kaget dan kebingungan menghadapi problema mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Bahkan belum lama ini di Bandung ada seorang Muslimah terdidik yang membunuh ketiga anak kandungnya karena kegamangannya mempersiapkan masa depan anak-anaknya.
Masalah seperti ini semakin hari semakin serius dan semakin parah, karena gempuran budaya jahiliyah semakin hari semakin masif menyerang keluarga kita. Gempuran itu langsung datang ke rumah kita, melalui tayangan di televisi, VCD, internet, telepon seluler, dan media cetak.
Dampak negatifnya sudah terasa di sekitar kita. Pada tahun 2002 Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melakukan penelitian tentang perilaku seks remaja kita pada enam kota di Jawa Barat. Dari penelitian itu diperoleh data, sekitar 40% remaja kita yang berusia 15-24 tahun mengaku pernah melakukan hubungan seks pranikah.
Hasil penelitian ini kemudian diperkuat temuan VCD berisi adegan pelajar SMA di Cianjur yang melakukan hubungan seks di ruang kelas sekolahnya.
Berbagai temuan negatif ini tentu saja mencemaskan seluruh orangtua yang berotak waras. Tapi kebanyakan orangtua cuma sampai di situ, tak tahu apa yang harus diperbuat.
Elly Risman adalah satu dari jutaan orangtua yang juga merasa cemas dan gelisah melihat fenomena mengerikan seperti itu, yang kemudian berketetapan hati untuk melakukan perlawanan dan pencegahan.
Bersama sejumlah kawan dekatnya, antara lain Neno Warisman, Erry Sukresno, Hidayat Achyar, dan Tommy Sutomo, pada tahun 1998 Elly mendirikan Yayasan Kita dan Buah Hati (YKBH).
Melalui yayasan tersebut Elly mengajak para orangtua untuk terus belajar bagaimana menjadi orangtua yang seharusnya, sehingga kualitas pengasuhan anaknya menjadi semakin baik. Dan jika ada kekeliruan selama ini dapat diperbaiki. “Kami siap membantu orangtua yang mau berubah,” jelas wanita kelahiran Aceh Barat ini.
Menurutnya, selama ini orangtua tidak sadar bahwa banyak terdapat kekeliruan pola asuh yang mereka terapkan pada anak-anaknya, sehingga berakibat buruk di kemudian hari. “Sikap anak yang negatif itu karena salah asuh orangtuanya,” jelasnya.
Sayangnya, kebanyakan mereka baru sadar ketika anak-anaknya menginjak dewasa. “Orangtua harus berpacu dengan perkembangan teknologi dan kemajuan informasi yang di sana juga banyak bermuatan informasi negatif,” tambahnya.
Kegiatan YKBH secara garis besar ditujukan untuk orangtua, remaja dan anak-anak. Kegiatan tersebut berbentuk workshop dan pelatihan parenting (pengasuhan dan pendidikan anak), serta pelayanan konsultasi untuk pribadi, keluarga, pasangan dan anak-anak.
YKBH juga membuka program pelatihan untuk anak-anak agar siap menghadapi tantangan hidupnya yang semakin berat. Untuk mendukung program itu, sejak tiga tahun lalu Elly merekrut 30 anak-anak muda, mahasiswa, sarjana yang baru saja lulus, dan psikolog muda. Mereka dilatih selama hampir enam bulan untuk menjadi konselor bagi rekan sebayanya dan anak-anak.
Jika yang menyampaikan orang muda, diharapkan komunikasi antara pelatih dan yang dilatih lebih lancar, terutama dalam membincangkan soal seksual. “Ternyata memang benar, kepada kakak pelatih yang muda-muda itu anak-anak jadi lebih terbuka mengemukakan pertanyaan dan pendapatnya,” terangnya.
Kepada wartawan Hidayatullah, Bahrul Ulum, Saiful Hamiwanto, dan fotografer Ahmad Lutfi Efendi, yang berkunjung di kantornya, Elly memperlihatkan dua buah album foto berukuran besar. Album itu berisi puluhan kertas berukuran kecil yang masing-masing berisi pertanyaan dari peserta pelatihan yang bersekolah di kelas 4-6 SD. Apa isi pertanyaan mereka?
Dahsyat! Mereka sudah bisa bertanya tentang cara-cara berhubungan suami-istri yang memuaskan, masturbasi, oral seks, serta fungsi kondom. Kok bisa?
“Bagaimana tidak bisa? Setiap hari anak kita diterpa dengan tayangan-tayangan porno dari televisi, VCD, tabloid, komik, internet, HP, bahkan dari pornoaksi yang dilakukan orang-orang dewasa di sekitarnya,” papar Elly.
Selanjutnya Elly berbicara panjang lebar kepada majalah Hidayatullah tentang gawatnya ancaman yang mengintai anak-anak kita, “Karena anak-anak Indonesia sekarang sudah dijadikan komoditi industri seks internasional.”
Lantas apa yang harus dilakukan para orangtua Indonesia? Silakan simak pendapat selanjutnya berikut ini:
Melihat problema yang dihadapi remaja kita saat ini, nampaknya perlu ada perbaikan pola pengasuhan dan pola komunikasi antara orangtua dengan anak-anaknya ya?
Ya. Anak-anak bisa seperti itu karena pendidikan agamanya lemah. Komunikasi dengan orangtua sangat buruk. Misalnya anak tanya tentang kondom tidak boleh, bertanya tentang perkosaan dan sodomi dimarahi. Padahal itu semua mereka lihat di TV. Orangtua tak siap jadi orangtua. Tak tahu tahapan perkembangan anak. Mereka masih memegang pendidikan seks sebagai sesuatu yang tabu, tidak layak dibicarakan. Kalaupun ingin berbicara tak tahu bagaimana memulainya, sampai kapan dan sejauh mana.
Seberapa besar kesalahan orangtua menghadapi anak?
Islam tegas memerintahkan kita untuk memuliakan dan mengajarkan anak-anak dengan akhlak yang baik. Anak itu amanah, kalau kita salah mendidik, dia bisa menjadi ujian, bahkan bisa menjadi musuh. Orangtua sering tidak memuliakan anaknya. Kalau mereka bertanya malah dibentak. Padahal setiap anak punya hak untuk mengetahui sesuatu yang dia lihat. Mereka butuh informasi yang benar dan lurus, termasuk masalah seks.
Pernahkah orangtua bertanya pada diri sendiri, sudahkah kita penuhi hak anak-anak? Sudahkah kita mendengar perasaan mereka? Sudah cukupkah kita memberi bekal kepercayaan diri yang benar pada mereka? Bukankah bekal kepercayaan diri mereka sudah banyak kita curi dengan cara pendidikan yang salah?
Orangtua masih bersikap double bounce (plin-plan) pada anak. Suatu saat dibolehkan, tapi pada saat lain dilarang. Dampaknya anak merasa tidak mampu, tidak berharga, sehingga gampang dipengaruhi. Pendidikan agamanya mestinya dari orangtua sendiri. Dari sini saya berfikir, berat benar pekerjaan orangtua sekarang ini.
Apakah keadaannya memang sudah segawat itu?
Iya. Sekarang ini kepala si anak seperti dipanah dari segala penjuru; dari atas, bawah, kiri, kanan dan belakang. Mereka dituntut macam-macam. Prestasilah, ranking, dan macam-macam. Padahal Allah menciptakan manusia itu berbeda-beda. Tapi kita menuntut berlebihan, seperti harus mendapatkan ranking. Itu artinya semua mata pelajaran harus bagus. Padahal tidak semua mata pelajaran harus bagus. Ada yang kuat matematikanya, bahasanya, atau seninya. Dalam teori multiple intelligents, cerdas itu macam-macam. Ada cerdas angka, cerdas ruang, dan cerdas gerak. Kita harus tahu itu.
Orangtua harus mengetahui kecerdasan yang dimiliki anaknya. Jika menuntut berlebihan maka membuat anak tak terpenuhi haknya. Itu baru satu panah, dari orangtua. Lalu sekolah, guru-gurunya, lingkungannya, dan semuanya “memanah” dia. Lalu ada tawaran baru dalam bentuk pornografi. Banyak beredar komik porno, VCD porno, internet porno, narkoba, ajakan berantem.
Ada orangtua yang merasa tak tega bila anaknya tak mengikuti perkembangan kemudian anaknya dibelikan HP berkamera. Apa akibatnya? Anak-anak itu kemudian bukan hanya mengirim SMS porno, tapi juga MMS (foto) porno.
Pengaruh itu tampaknya tak terbendung, begitu?
Saya berani bilang, anak kita menjadi sasaran industri seks internasional. Silakan buka situs international media watch di Amerika. Di situ ada tulisan tentang The Drug of the New Millennium. Di situ saya memperoleh informasi bahwa memang di sana memproduksi film, VCD, dan komik porno. Film-film itu dibuat sangat murah dengan bintang film yang tidak terkenal. Kemudian dilempar ke sini. Itu bisa mencuci anak kita empat hal.
Satu, dasar-dasar kepercayaan, bahwa seks itu fun, “Kamu butuh, jangan sok alim.” Lalu, harga diri. “Kalau sudah terima uang sekian boleh pegang, lebih banyak lagi bisa cium, lebih banyak lagi boleh hubungan badan.” Itu terjadi karena harga diri tidak ada. Kenapa? Karena di rumah waktu belajar pasang tali sepatu dibentak. “Lama amat, sini Mama bantuin!” Anak tidak pernah punya kepercayaan pada kemampuannya. Dari situ asalnya, jadi ketika sudah gede dia tak pernah merasa dirinya berharga. Ketiga, sikap yang negatif dibuat jadi positif. “Bukan pacaran kalau kamu tidak ada sentuhan fisik”. Emosinya dibuat jadi kacau.
Bagaimana supaya orangtua menyadari hal itu?
Mereka harus mau belajar menjadi orangtua yang baik. Selama ini kan berjalan alami dan turun-temurun. Mana ada sekolah bagi calon orangtua di kalangan umat kita. Padahal di kalangan Nasrani jika seseorang ingin mendapatkan ijin menikah dari gereja, syaratnya harus lulus pelatihan pernikahan selama 6 bulan. Jika tidak lulus, maka ia tidak diijinkan menikah di gereja.
Apakah seharusnya kita juga seperti itu?
Iya, kita seharusnya juga punya Islamic parenting school (sekolah Islam non formal untuk mendidik menjadi orangtua yang baik). Materinya juga sudah jelas. Islam memiliki materi yang sangat lengkap menyangkut keluarga. Rasulullah sendiri telah mencontohkan bagaimana membangun keluarga yang sakinah mawadah wa rahma. Misalkan, ketika orangtua menghadapi pertanyaan tentang seks dari anak, ya kita kembalikan pada agama. Prinsipnya, kalau kita tahu jangan anak disuruh belajar pada orang lain. Makanya yang namanya perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Jadi orangtua mesti banyak mendengar.
Bagaimana cara YKBH melakukan pelatihan pendidikan seks pada anak sekolah?
Setelah diberi pelatihan lalu disuruh membuat pertanyaan apa saja. Setelah itu dilihat mana pertanyaan dari anak yang sudah tahu seks dan yang belum. Ppada pertemuan berikutnya anak-anak yang sudah tahu dipisahkan dengan anak yang belum tahu. Tidak bisa dicampur. Istilahnya kita beri kelas khusus pada mereka yang tahu dan ingin tahu. Pada kenyataannya, memang justru kelas yang khusus itulah yang banyak diminati. Pada kelas ini, pertanyaannya sudah dahsyat-dahsyat. Anak-anak tak segan-segan menanyakan soal seks. Padahal seharusnya saya ini kan seusia dengan neneknya. Toh mereka berani.
Pendidikan seks bagaimana yang baik untuk anak?
Pendidikan seks itu ada dua, kalau terlalu terbuka seperti di Amerika juga berbahaya. Tapi, disembunyikan juga salah. Diberi informasi itulah yang penting. Jika ada pertanyaan tentang seks, orangtua harus memiliki kiat-kiatnya. Yaitu tenang, self control, dan take it easy. Yang kedua, cek pemahamannya. Jangan-jangan si anak lebih tahu, mereka cuma ngetes. Kalau merasa kaget, katakan, “Saya tidak pernah mikir.”
Nah, ketiga langkah ini membuat suasana tenang, tidak reaktif dan punya kesempatan berpikir menjawab atau tidak. Poin selanjutnya, beri jawaban yang terbaik plus norma agama. Jadi, dari kecil iman dan syariah itu sudah masuk dalam diri anak-anak. Di sinilah perlunya pelatihan bagi calon orangtua dan orangtua, agar memiliki bekal yang cukup ketika menghadapi anak-anaknya.
Tulisan 2
Hari Tanpa TV, Kenapa Tidak!?
Kecintaan Hainah Ellydar, begitu nama lengkap Elly, terhadap dunia anak-anak tidak lepas dari masa kecilnya yang begitu bahagia. Ia amat terkesan pada pendidikan orangtuanya, Muhammad Din Ilyas dan Saadah. Keduanya mendidik sesuai ajaran Islam. Semua keputusan dimusyawarahkan. Ayahnya selalu mengajak musyawarah sebelum memutuskan sesuatu.
Ibunya, lain lagi. Ia selalu mencatat perilaku anak yang perlu dibenahi tiap harinya. Tiap minggu anak dipanggil, masuk ke kamar, diberi tahu kesalahan-kesalahannya. ”Ibu saya tidak pernah mempermalukan anak di depan saudara-saudaranya. Begitu pula menghadapi pembantu,” ungkap sulung dari enam bersaudara, tiga perempuan dan tiga laki-laki ini.
Ayahnya, meski bukan seorang ulama, namun punya cita-cita yang kuat membangun sebuah pesantren. Tiga puluh tahun bekerja keras, akhirnya ia berhasil membeli tanah seluas 60 hektar dan 15 tahun terakhir hidupnya dihabiskan untuk membangun pesantren Subulussalam di kampungnya di Aceh Singkil.
Elly selalu mengenang ucapan ayahnya. ”Pendidikan haruslah memanusiakan manusia. Kalau kamu tidak memanusiakan orang Aceh, kapan Aceh itu bisa dibangun?” kata Elly menirukan ayahnya.
Elly meneladani orangtuanya dalam mengasuh anak. Tentu saja, kini ditambah lagi dengan pengetahuan yang diperolehnya. Apalagi ia pernah lama tinggal di Amerika. Waktu itu ia ikut suaminya yang mengambil gelar doktor di Amerika Serikat tahun 1992 hingga 1998.
Saat pulang ke Indonesia, Elly ikut mendirikan PT Surindo Utama dan menjadi salah satu direkturnya, yaitu Direktur Riset. Dari pengalaman di lembaga tersebut, Elly kemudian memasuki dunia pendidikan keluarga. “Dari pengalaman survey di lapangan ketika bekerja di Surindo itulah saya jadi terketuk untuk menekuni bidang pendidikan masyarakat ini,” aku Elly.
Menurut Elly, masa depan Indonesia saat ini tergantung pada generasi muda. Karena itu, setiap orangtua punya kewajiban menyelamatkan anak-anaknya. “Ayah-ibu mutlak bekerjasama. Mendidik anak harus dua-duanya, jangan ayahnya saja, atau ibunya saja,” jelasnya.
Anak bagi Elly mempunyai arti yang sangat besar. “Investasi kepada anak bagi kami sangat penting dibanding lainnya,” kata istri Risman Musa, lelaki yang menikahinya tahun 1978. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai tiga anak perempuan: Rossalina Awaina (25) yang kini sudah menikah, Yuhyina Maisura (22), dan Silmi Kamila (15).
Dalam pendidikan anak, Elly mengaku mendapat support dari sang suami. Antara ia dan suaminya memiliki visi yang sama bagaimana mendidik anak-anak. “Alhamdulillah, anak-anak saya tidak ada yang bermasalah. Bahkan ada yang mengikuti jejak saya, sebagai psikolog,” terang Elly.
Elly bersama suami mempunyai cara tersendiri agar anak-anaknya tegar melawan arus pergaulan yang permisif, yaitu selalu menyediakan waktu untuk berbicara khusus soal seks, kemudian mengaitkannya dengan agama. Sebagai psikolog, Elly tahu benar pentingnya budaya keluarga dalam pendidikan anak. Di rumahnya, pola pendidikan semua dikembalikan kepada Al-Qur`an dan Hadist.
Elly mengaku, kondisi yang ia alami ketika remaja dulu dengan remaja sekarang jauh berbeda. Anak sekarang baru berumur 11 tahun sudah menstruasi, karena gizi yang lebih baik dan pengaruh tayangan-tayangan porno. “Media berbau pornografi luar biasa peredarannya. Kita bisa dengan mudah menemukan VCD, majalah dan tabloid porno di tempat-tempat terbuka yang bisa diakses siapapun, termasuk anak-anak dengan harga yang murah,” tegasnya.
Media apa yang paling berpengaruh atas penyebaran pornografi, khususnya pada anak-anak?
Televisi dengan tayangan yang beragam tanpa melihat jam tayang. Sekarang ini sinetron menduduki peringkat teratas penyebar pornografi. Tetapi untuk kalangan menengah ke atas, pengaruh televisi masuk urutan nomor tiga setelah internet dan telepon seluler (HP).
Apa yang mesti dilakukan untuk mencegah penyebaran pornografi di televisi ataupun internet?
Saya sudah beberapa kali memprotes stasiun televisi, tapi hanya mendapat jawaban yang tidak memuaskan. Untuk persoalan yang satu ini, kita harus bertarung dengan industri kapitalis yang ada di belakang industri pornografi serta ideologi tertentu.
Saya juga pernah ngomong ke Menteri Agama, tentang bahaya tayangan televisi dan beliau membenarkan. Saya juga datang ke Komisi 8 DPR untuk membahas masalah ini. Saya membawa data-data yang lengkap tentang tayangan-tayangan yang buruk bagi anak-anak.
Mengenai pemblokiran terhadap situs pornografi, secara teknis sangat bisa dilakukan jika pemerintah mempunyai itikad baik untuk melindungi masyarakatnya. Karena itu saya tidak setuju dengan Menteri Infokom yang mengkampanyekan internet ke anak-anak sekolah tanpa sebuah filter yang kuat. Semestinya membuat dulu perangkat filternya, baru kemudian mensosialisasikan internet. Saya kira itu bisa dilakukan sebagaimana negara-negara tetangga kita. Kalau kita tidak bisa membuat filter, lebih baik dihentikan kampanye internet tersebut.
Anda nampaknya prihatin terhadap isi tayangan TV yang terlalu berorientasi bisnis?
Iya. Makanya kami pernah melakukan aksi bersama kawan-kawan yang peduli terhadap anak-anak dengan melakukan kampanye “Sehari tanpa TV”. Diharapkan dengan adanya aksi ini keluarga mendapat kesempatan berharga untuk melakukan aktivitas bersama tanpa diganggu televisi. Dengan mematikan TV, maka setiap anggota keluarga akan memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan kegiatan produktif, dan menyadari bahwa hidup bisa lebih bernilai tanpa TV.
Tujuan aksi tersebut untuk apa?
Mendesak industri penyiaran agar benar-benar memperhatikan kepentingan masyarakat, terutama perlindungan terhadap anak dan remaja. Kemudian menumbuhkan sikap kritis masyarakat terhadap siaran televisi.
Tapi kenyataannya siaran itu terus berlangsung. Pemerintah maupun institusi lain, terbukti tidak mampu membuat peraturan yang bisa memaksa industri televisi untuk lebih sopan menyiarkan acaranya….
Ini tidak lepas dari kepentingan sesaat. Kalangan industri televisi punya argumentasi sendiri mengapa mereka menyiarkan acara-acara yang tidak memperhatikan kepentingan anak dan remaja. Intinya, kepentingan bisnis telah mengalahkan dan menempatkan anak dan remaja kita sekadar sebagai pasar yang harus dimanfaatkan sebesar-besarnya. Dan ketahuilah, meski stasiun TV sudah mulai memperbaiki isi siaran mereka, namun hal itu tetap tidak bisa menghilangkan kesalahan mereka di masa lalu dalam memberi “makanan” yang merusak jiwa puluhan juta anak Indonesia.
Ini artinya gerakan hari tanpa TV perlu dilanjutkan?
Iya. Itu semua kembali pada masyarakat sendiri. Sebab tidak ada pilihan lain kecuali masyarakat sendiri yang harus menentukan sikap menghadapi situasi ini. Anggota masyarakat yang bersatu dan memiliki sikap yang sama untuk menolak perilaku industri televisi, akan menjadi kekuatan yang besar apabila jumlahnya makin bertambah. Penolakan oleh masyarakat yang merupakan pasar bagi industri televisi, pada saatnya akan menjadi kekuatan yang besar. Kami merencanakan mengadakan aksi “Enam Hari Tanpa TV” dalam waktu dekat.
Seberapa parah pengaruh negatif TV pada anak-anak?
` Sangat parah. Sekitar 60 juta anak Indonesia menonton TV selama berjam-jam hampir sepanjang hari. Mulai dari acara gosip selebritis; berita kriminal berdarah-darah; sinetron remaja yang penuh kekerasan, seks, intrik, mistis, dan amoral. Termasuk juga acara anak yang sebagian besar berisi adegan yang tidak aman dan tidak pantas ditonton anak.
Bayangkan, kalau anak-anak kita adalah satu dari mereka yang tiap hari harus menelan hal-hal dari TV yang jelas-jelas tidak untuk mereka tapi untuk orang dewasa. Anak-anak akan sangat berpotensi untuk kehilangan keceriaan dan kepolosan mereka karena masuknya persoalan orang dewasa dalam keseharian mereka. Akibatnya, sering terjadi gangguan psikologi dan ketidakseimbangan emosi dalam bentuk kesulitan konsentrasi, perilaku kekerasan, pertanyaan-pertanyaan yang “di luar dugaan” dan sebagainya.
Hanya sedikit anak yang beruntung bisa memiliki berbagai kegiatan, fasilitas, dan orangtua yang baik sehingga bisa mengalihkan waktu anak untuk hal-hal yang lebih penting daripada sekadar menonton TV.
Tulisan 3
Maju Terus Melawan Pornografi
Sebagai sebuah lembaga yang peduli dengan dunia anak, Yayasan Kita dan Buah Hati (YKBH) sangat resah terhadap pornografi yang melanda anak-anak Indonesia. Hasil survei yayasan pimpinan Elly Risman ini terhadap 1.705 responden di Jabotabek pada 2005 menemukan hasil yang mengerikan. Lebih dari 80 persen anak usia 9-12 tahun telah mengakses pornografi. Usia murid kelas 4-6 itu mayoritas (25 persen) mendapatkan materi pornografi melalui telepon seluler, situs porno di internet (20 persen), dan majalah serta film/VCD/DVD (masing-masing 12 persen).
“BBC dan CNN pada 2001 melaporkan, Indonesia dan Rusia merupakan pemasok terbesar materi pornografi anak, di mana anak-anak ditampilkan dalam adegan-adegan seksual,” terang Elly yang lulus Fakultas Psikologi Universitas Indonesia tahun 1978. Materi tersebut menurut Elly kemudian dijual, diekspor ke suatu jaringan situs pornografi anak di Texas. “Sebagai Muslim kita seharusnya malu dengan hal ini,” sesal Elly.
Namun ia mengaku tidak bisa berbuat banyak melihat kenyataan tersebut. Ia dan kawan-kawannya hanya bisa melakukan himbauan dan pengertian kepada berbagai pihak bahwa kondisi anak-anak Indonesia sudah diambang kehancuran. “Tidak banyak orang yang peduli dengan apa yang kami lakukan di sini,” terangnya. Karena itu ia mengaku seringkali mendapat kendala di lapangan dalam menjalankan porgram-program yayasannya.
Kendala itu bisa dari pihak pengambil keputusan yang sudah tidak peduli dengan apa yang ia lakukan maupun karena kendala pendanaan. Selama ini, kegiatan yang dilakukan dananya didapat dari urunan dan sumbangan beberapa kawan. “Saya berharap ada orang yang mau mendanai kegiatan kami,” harap Elly. Sedangkan dana dari luar negeri seperti PBB, ia tidak mau menerima karena dianggap syubhat.
Meski dana masih menjadi kendala, namun Elly tetap optimis dan akan bergerak terus demi menyelamatkan anak-anak Indonesia dari pornografi.
Yang membuat Elly tidak habis pikir, kenapa aturan pornografi di Indonesia yang dikenal negeri Muslim lebih longgar dari pada Amerika, Inggris, Singapura, atau Korsel. Karenanya ia menuntut supaya segera diundangkannya RUU Anti-Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) yang lebih memberikan perlindungan pada anak.
Anda begitu gigih memperjuangkan aksi antipornografi untuk anak. Begitu pentingkah itu?
Kita harus berjuang menyelamatkan anak Indonesia dari kekerasan pornografi. Itu tujuan utama kita. Contohnya, di negara-negara maju, Amerika, Inggris, atau di Eropa, mereka mengizinkan pornografi untuk orang dewasa. Tapi, di bawah 18 tahun tidak diizinkan. Itu bisa mereka lakukan melalui berbagai cara. Kalau pemerintah sungguh-sungguh sebenarnya bisa. Tapi saya melihat itikad pemerintah dalam hal ini kurang kuat.
Pernah Neno Warisman diundang salah satu Departemen Pemerintah untuk mengisi soal pornografi dan kekerasan pada anak. Neno menyampaikan pada panitia bahwa orang yang paling pas mengisi acara tersebut saya. Panitia setuju. Namun dua hari sebelum acara dilakukan, tahu-tahu dibatalkan. Alasannya, karena saya bukan public figur. Biarpun begitu saya tetap akan berjuang melawan pornografi.
Anda optimis masalah ini bisa teratasi?
Untuk hilang secara total tidak. Pornografi akan tetap ada seperti halnya kebaikan dan keburukan selama kehidupan ini. Namun semua agama pasti menghendaki kita untuk berbuat kebaikan. Yang bisa kita lakukan bagaimana meminimalkan penyebaran pornografi terutama pada anak-anak melalui undang-undang, karena yang ada saat ini belum memberikan efek jera.
Selain itu, dari segi penegakan hukum, aparat kepolisian perlu melakukan tindakan yang lebih progresif untuk meningkatkan profesionalisme kinerja aparat dalam memberantas pornografi.
Bagaimana upaya untuk melindungi anak-anak dari pengaruh pornografi?
Menurut saya perlu ada regulasi yang tegas, karenanya kita mendesak dan sedang terus memperjuangkan agar DPR segera mengundangkan RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi. Bagi kami RUU itu merupakan tujuan jangka menengah. Sedang tujuan utama kami yaitu menyelamatkan anak-anak Indonesia dari pornografi.
Kami dari lembaga-lembaga peduli anak terus melakukan advokasi di lapangan serta melakukan penyadaran melalui seminar, betapa pentingnya mengawasi anak-anak, yang diterapkan berupa pendidikan untuk melakukan penjagaan mulai dari rumah sendiri.
Apakah cara itu cukup efektif?
Kita memang belum pernah melakukan penelitian secara akurat, seberapa besar persentase perubahan itu, karena aliansi ini kan masih baru. Untuk kongkritnya perlu dirumuskan lagi, tetapi untuk penyadaran melalui ibu-ibu sudah kami lakukan puluhan tahun yang lalu. Saya mengakui, ini tantangan yang sangat berat, seperti membangun istana pasir, sudah kita bangun kemudian dengan mudah terhapus gelombang berupa industri pornografi. Akibatnya moral anak kita terkikis lagi. Akan begitu terus, tetapi kita harus tetap peduli terhadap masalah ini.
Bagaimana pendapat Anda tentang kelompok yang berupaya membelokan RUU APP dan menganggap keberadaannya justru akan mengancam kebudayaan Indonesia?
Makanya saya bersama kawan-kawan berusaha mendatangi mereka untuk berdialog. Saya yakin, pasti ada jalan keluar. Dan hal ini sudah dicoba beberapa waktu lalu melalui pertemuan di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Alhamdulillah, sudah mulai terbuka, mudah-mudahan mereka sadar, bahkan tanpa malu-malu kami pun sudah mendatangi tokoh-tokoh yang berpengaruh di negeri ini untuk meminta dukungan.
Mengenai pembelokan yang dilakukan sekelompok masyarakat, saya mengajak kelompok yang berfikiran seperti itu untuk sama-sama membaca dulu RUU-nya, menyelidiki mana substansi yang mengancam kebudayaan seperti yang dimaksudkan. Saya mengakui, memang benar ada agenda di balik berbagai pendapat ini, namun kita harus bisa meyakinkan bahwa anggapan itu tidak benar.
Ketika saya mengisi seminar di Bali dan Menado, awalnya masyarakat sinis dengan saya. Namun setelah mendengar penjelasan saya, terutama tentang betapa besarnya ancaman pornografi terhadap anak-anak kita, mereka malah simpati pada saya.
Ternyata kalau mereka diajak berbicara tentang anak, pikirannya sama. Mereka juga khawatir dan takut anak-anaknya rusak. *

Beberapa manfaat perpisahan yang dikelola dengan baik bagi anak

Keuntungan perpisahan bagi anak mungkin tidak langsung tampak jelas ketika dia menangis keras karena ditinggalkan yang mengasuhnya. Tetapi sejalan dengan waktu, kita akan menyadari banyak manfaat perpisahan bagi anak :
1. Memperluas dunianya dan memberi pengalaman-pengalaman baru
2. Menyediakan tempat bagi orang lain dalam kehidupan anak, baik itu pengasuh baru maupun teman-teman sebaya.
3. Menyediakan pelatihan tak ternilai untuk hari-hari ketika anak kita masuk kelompok bermain, taman kanak-kanak, dan sekolah dasar.
4. Membantu anak membangun kemandirian dan rasa percaya diri.

Sebagai orang tua, kita memang menikmati kebersamaan kita bersama anak. Akan tetapi, kita juga dapat mengambil manfaat dari perpisahan dengan anak. Kenyataannya, memiliki waktu pribadi sangat penting untuk mempertahankan pekerjaan, menyelesaikan tugas rumah tangga, dan mempertahankan identitas diri kita di luar peran kita sebagai orang tua. Hubungan kita dengan pasangan akan berkembang jika kita mempunyai waktu bebas anak. Meskipun tampak ironis,... memilliki waktu untuk mengurus kebutuhan diri sendiri akan membuat kita lebih segar dan lebih responsif terhadap kebutuhan anak kita.

Tips melakukan perpisahan untuk kelompok usia 2 tahun ke atas

sumber: buku Sampai Jumpa Balitaku
YAng harus dan yang tidak boleh dilakukan
1. jangan meminta maaf atas kepergian kita. Ini akan menyampaikan pesan bahwa kita melakukan sesuatu yang perlu dimaafkan anak. Padahal tidak...
2. Pergilah dengan riang dan tanpa beban. Katakan -Ibu mencintaimu dan akan bersamamu lagi setelah mengajar hari ini,- kemudian peluk dan cium anak kita, dan tinggalkan. Ini akan memberi pesan bahwa kita merasa tenang meninggalkan anak dengan pengasuh, sehingga si anak pun akan merasa tenang.
3. Jangan meminta izin kepada anak kita untuk pergi. Ini akan memberikan kekuatan lebih daripada yang dibutuhkan atau yang bisa digunakannya dengan nyaman. Di samping itu, jika responsnya berupa larangan, tetapi anda pergi juga akhirnya, dia akan merasa bahwa kepercayaannya telah disalahgunakan
4. Jangan ucapkan selamat tinggal, jangan mengendap2 pergi. Menghilang tanpa sepengetahuan anak mungkin membantu kita menghindari dari masalah hari ini, tetapi akan menghancurkan kepercayaan anak pada kita, dan itu akan semakin menyulitkan perpisahan juga.
5. Jangan berlama-lama mengucapkan selamat tinggal.lni akan menunjukkan keraguan kita dan menyebakan anak kita merasa khawaatir pula pada kepergian kita.
6. Katakan apa yang dapat anak kita lakukan selama kita pergi, bukan apa yang akan kita lakukan.
7. Bersabarlah ketika anak kita bertingkah ketika kita pulang. Semakin lama kita pergi, maka semakin sulit baginya untuk menahan diri, terutama bagi anak yang berusia 2 atau 3 tahun. BErtemu dengan kita lagi adalah satu keinginannya sepanjang hari. Akui perasaannya dan katakan kepadanya betapa kita merindukan dia...

Meningkatkan Kecerdasan Anak Melalui Membaca

image
Budaya membaca di negara kita ini masih sangat rendah. Bila dibandingkan dengan negara-negara tetangga kita masih kalah jauh. Salah satu yang menjadi penyebabnya adalah pemahaman yang kurang tentang pentingnya membaca. Pemahaman tentang pentingnya membiasakan anak membaca sejak dini perlu diketahui oleh para orang tua.
Mengapa membaca itu penting? Membaca merupakan salah satu fungsi tertinggi dari otak manusia dan dapat dikatakan bahwa semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca. Paul C. Burns, Betty D. Roe & Elinor P. Ross ( dalam Teaching Reading in Today’s Elementary School ) mengatakan bahwa membaca merupakan suatu proses yang kompleks. Tidak hanya proses membaca itu yang penting tetapi setiap aspek yang ada selama proses membaca juga bekerja dengan sangat kompleks. Ada delapan aspek yang bekerja saat kita membaca, yaitu aspek sensori, persepsi, sekuensial (tata urutan kerja), pengalaman, berpikir, belajar, asosiasi, dan afeksi. Kedelapan aspek ini bekerja secara bersamaan saat kita membaca. Sesungguhnya otak anak mempunyai kapasitas yang sangat luas. Otak kita memiliki sekitar seratus miliar sel otak. Angka yang sangat fantastis! Ini sama dengan dua puluh kali lipat seluruh penduduk dunia. Kemampuan otak yang sangat tinggi ini menjadi tidak berfungsi kalau kita tidak mengembangkannya. Kita mengembangkan otak kalau kita menggunakannya. Sel-sel otak akan saling berhubungan satu sama lain (membentuk koneksi) kalau otak kita gunakan untuk berpikir. Ketika anak membaca berarti anak sedang menggunakan otaknya untuk berpikir yang membuat sel-sel di otak saling terkoneksi. Semakin sering anak membaca buku maka semakin banyak sel otak yang terkoneksi. Sel-sel otak yang terkoneksi inilah yang membuat anak menjadi cerdas.
Mengapa kita harus menumbuhkan minat baca sejak dini? Anak-anak memiliki kemampuan belajar yang sangat tinggi. Mereka mudah sekali mempelajari sesuatu yang baru. Ketika anak-anak kita masih berusia balita (bawah tiga tahun), mereka dengan mudahnya meniru perilaku-perilaku yang mereka lihat di lingkungan tempat mereka tinggal. Hal ini terjadi karena perkembangan otak paling pesat terjadi pada rentang usia 0-6 tahun. Ketika seorang anak telahir di dunia ini, pertumbuhan otaknya sudah 25%, ketika mereka berusia 18 bulan sudah mencapai 50% dan di saat mereka berusia 6 tahun pertumbuhan otak anak mencapai 90% dan mencapai ukuran maksimal ketika berusia 18 tahun (100%). Pertumbuhan otak ini seiring juga dengan perkembangan intelektual anak. 50% kemampuan intelektual anak berkembang saat lahir sampai umur 4 tahun, menurun menjadi 30% dalam rentang usia 4 sampai 8 tahun, dan ketika mereka berusia 8 sampai 18 tahun semakin menurun menjadi 20%. Betapa sayangnya jika usia-usia emas (golden age) seorang anak berlalu begitu saja tanpa mendapatkan sesuatu yang berarti. Padahal membentuk kebiasaan di usia ini jauh lebih mudah dibanding usia sesudahnya.
Banyak manfaat yang diperoleh anak jika mereka senang membaca buku sejak usia mereka masih sangat muda. Manfaat yang bisa diperoleh bagi seorang anak yang senang membaca antara lain :

1. Membaca Melatih Konsentrasi Anak
Membaca akan meningkatkan kinerja otak secara optimal. Ia mengembangkan selective attention (perhatian selektif), sehingga otak hanya memproses informasi yang secara sengaja dicerna. Ini merupakan unsur terpenting konsentrasi. Seseorang hanya mampu menikmati bacaan dan menyerap informasi dengan baik hanya apabila otak dalam keadaan efektif mengelola informasi atau secara umum disebut berkonsentrasi. Jika anak bisa menikmati bacaan dengan penuh semangat, ini menandakan kemampuan berkonsentrasi anak berkembang dengan baik.

2. Membaca Membuka Cakrawala Pengetahuan Menjadi Luas
Membaca tentu saja merupakan gerbang utama pengetahuan. Dengan membaca, pengetahuan anak akan lebih kaya. Pada gilirannya, bertambahnya pengetahuan anak apabila mendapat respon positif dari lingkungan, khususnya orangtua, akan meningkatkan minat belajar. Anak menemukan keasyikan dengan membaca sebagai salah satu proses belajar, sementara pengetahuan yang diserap melalui membaca meningkatkan rasa ingin tahu dan dorongan untuk menemukan yang lebih besar, sehingga memacu anak belajar lebih keras dalam bentuk eksperimen, mengamati maupun bentuk-bentuk belajar lainnya. Pengetahuan yang dimiliki anak juga sangat bermanfaat meningkatkan respon anak terhadap pengetahuan baru yang berhubungan dengan pengetahuan yang sudah dimiliki anak sebelumnya. Selain itu, penguasaan anak yang sangat baik terhadap berbagai disiplin pengetahuan juga memberi manfaat meningkatkan dorongan belajar terhadap cabang pengetahuan yang sama sekali berbeda, karena kekayaan pengetahuan itu sendiri memberi perasaan berharga pada diri anak.

3. Membaca Mengasah Kecakapan Berbahasa Anak
Selain erat kaitannya dengan kemampuan berkomunikasi, kecakapan berbahasa sangat mempengaruhi keterampilan berpikir logis dan sekuensial. Bahan bacaan yang diserap anak, tentu saja sangat menentukan apakah anak akan terlatih berpikir logis atau tidak. Karena itu, orangtua perlu memperhatikan buku yang menjadi sumber bacaan anak.            
Membaca merupakan pondasi awal untuk meningkatkan kecerdasan anak.  Bukan hanya tugas seorang guru yang berkewajiban mengajarkan membaca kepada anak. Peran orang tualah justru yang sangat berpengaruh terhadap kemampuan membaca sang anak. Selain guru di sekolah tugas orang tualah di rumah untuk mengajarkan membaca kepada sang anak. Jadi jika kita menginginkan seorang anak yang cerdas, jangan tunda-tunda lagi untuk mengajarkan membaca kepada anak sedini mungkin. Ayo budayakan budaya membaca sedini mungkin!!

Disadur dari www.gurubangkit.wordpress.com

Semua Anak Cerdas

image
Menurut Howard Gardner, Kederdasan manusia adalah kombinasi dari berbagai kemampuan umum dan spesifik. Oleh karena itu, Gardner membuat teori kecerdasan majemuk (Multiple Intelegence) yang berbeda dengan konsep kecerdasan menurut IQ yang hanya melibatkan aspek kemampuan bahasa, logika matematika, dan kadang-kadang spasial. Menurut Gardner ada sembilan aspek kecerdasan manusia, yaitu :
  • Kecerdasan gambar atau spasial (Visual Spatial Intelligence) ; berkemampuan tinggi dalam memvisualisasikan fenomena dalam bentuk gambar, gemar menggambar, menyenangi warna, garis, membangun balok dan mampu memberikan arah dimana suatu lokasi berada. Para arsitek, pelukis, ahli desain interior, dan pilot mempunyai kecerdasan tingi dalam bidang ini.
  • Kecerdasan interpersonal (Interpersonal Intelligence) ; mudah bergaul dengan orang lain, senang mencari teman, dan senang terlibat dalam kerja kelompok atau kegiatan yang melibatkan diskusi kelompok. Mereka biasanya mudah menyelesaikan konflik dengan orang lain.
  • Kecerdasan kinestetik atau fisik (Body Kinesthetic Intelligence) ; cepat mempelajari dan menguasai kegiatan-kegiatan yang melibatkan fisik. Baik motorik kasar maupun halus. Mereka yang cerdas dalam bidang ini biasanya mampu menggunakan seluruh anggota tubuhnya dalam pekerjaan, pemecahan masalah, keterampilan tangan, jari, atau lengan dalam memproduksi sesuatu, seperti yang dimiliki oleh para atlet, pemain film atau drama, penari, penyulam, dan sebagainya.
  • Kecerdasan verbal – bahasa (Verbal – linguistic Intelligence) ; sangat mampu mengekspresikan pikirannya secara verbal, mudah mengingat nama atau sesuatu dan mampu menulis dengan baik. Mereka banyak mengajukan pertanyaan dan senang berdiskusi.
  • Kecerdasan intrapersonal – mengenal diri sendiri (Intrapersonal Intelligence) ; mudah mengenali perasaan diri, dapat menghayati puisi, drama, bermeditasi, jurnal, dan bercerita.
  • Kecerdasan musik (Musical intelligence) ; sangat sensitif terhadap bunyi dan cepat mempelajari berbagai jenis musik, lagu, dan alat-alat musik.
  • Kecerdasan mempelajari alam (Natural Intelligence) ; cepat mempelajari fenomena alam, biologi, mengamati dan membaca kehidupan tumbuhan, binatang, serta gemar akan kegiatan pencinta alam.
  • Kecerdasan logika – matematika (Mathematical – Logical Intelligence) ; cepat mempelajari angka, mengelompokkan membuat hipotesis, dan berpikir logika lainnya. Ilmuwan, ahli matematika, dan computer programmer adalah mereka yang cerdas dalam bidang ini.
  • Kecerdasan spiritual (Existential Intelligence) ; kemampuan untuk berpikir dalam tentang makna dan arti hidup, serta mempertanyakan “mengapa kita hidup” dan “mengapa kita mati” Di dalamnya termasuk pula kemampuan menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari keseluruhan dan saling terkait.
Setiap anak unik karena mereka memilik kemampuan dan bakat yang berbeda-beda. Kecerdasan bukan hanya satu melainkan majemuk. Apakah mungkin seorang anak tidak punya potensi sama sekali? Tidak mungkin karena Allah menciptakan manusia dengan Maha adil. Setiap anak pasti punya bakat.
Jadi, jika kita masih mengganggp bahwa anak yang cerdas adalah anak yang pintar dalam logika matematika dan cepat menghafal langsung, berarti anggapan kita perlu diluruskan. Setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda-beda. Kecerdasan apa yang dimiliki anak anda? Silakan mencari dan mengembangkannya, sehingga anak anda bisa bermanfaat dengan menggunakan kecerdasannya secara optimal.
Sumber : Character Parenting Space, Dr. Ratna Megawangi

Benyamin S. Bloom - Pendidikan Anak Usia Dini

Benyamin S. Bloom, professor pendidikan dari Universitas Chicago, menemukan fakta yang cukup mengejutkan:
Ternyata 50% dari semua potensi hidup manusia terbentuk ketika kita berada dalam kandungan sampai usia 4 tahun.  Lalu 30 % potensi berikutnya terbentuk pada usia 4 – 8 tahun.
Ini berarti 80% potensi dasar manusia terbentuk sebagian besar di rumah, sebelum mulai masuk sekolah.
Akan seperti apa kemampuannya, nilai-nilai hidupnya, kebiasaannya, kepribadiannya dan sikapnya … 80% tergantung pada hasil pendidikan orang tua nya.
Sadar atau tidak. Baik 'dibentuk' secara sengaja atau pun tidak sengaja!
Artinya, akan jadi siapa anak kita, bagaimana cara berpikir dan bersikapnya ditentukan sepenuhnya oleh informasi dan pengetahuan apa yang tersimpan di otaknya.
Panca indera adalah pintu masuk yang langsung masuk ke pusat kecerdasan anak.
Apapun yang ia dengar, apapun yang ia lihat, apapun yang ia rasakan, semua langsung tersimpan (terinstall filenya ) di otak anak.
Ia juga belajar tentang sikap dan kepribadian dari orang-orang yang mengasuhnya. Bagaimana ayah ibunya berbicara, apa yang dikatakan, bagaimana ia bereaksi terhadap emosi-emosi tertentu, bagaimana orangtua bereaksi terhadap tekanan amarah, tangisan, dan kerewelan.
Semua bahasa komunikasi anak (dalam bentuk gerakan, tangisan dan kerewelan) adalah alat-alat ia belajar. GURU PERTAMA ADALAH ORANG TUA

Hal pertama yang langsung kita sadari adalah, sebagai ayah dan ibu, kita adalah guru anak-anak kita. Baik kita melakukannya dengan benar ataupun 'nggak sengaja' salah.
Pertanyaan berikutnya, sudah tahukah kita kurikulum apa yang sedang berlangsung pada usia 0 – 4 tahun atau dalam 8 tahun perkembangan pendidikan anak-anak kita?
Ternyata, kebanyakan orang tua tidak punya 'kurikulum' pendidikan anak usia dini ini. Tentu tak heran akhirnya kurikulum alamiah lah yang diterapkan.
Kurikulum yang akhirnya dipelajari anak-anak kita adalah kurikulum-alamiah yang diciptakan oleh lingkungan tempat kita saat ini hidup dan berada. Lewat program-program di televisi, pergaulan di sekitar rumah kita, juga pergaulan antar penghuni di dalam rumah tangga kita sendiri.
Apa yang 'diajarkan' (tanpa sengaja) pada bayi dan anak-anak kita?
Bisa jadi, kalau kita tak awas, secara keilmuan bisa jadi belum ada yang kita ajarkan. Bahkan yang terjadi sebaliknya, banyak sekali hal negatif yang “dipelajari” anak-anak kita dari menyerap semua input yang ada di sekitarnya.
Lalu adakah kegiatan-kegiatan pembelajaran yang secara sengaja kita lakukan? By design? Itulah tugas rumah, PR kita semua Salah satu ALAT yang bisa digunakan adalah menjadikan kegiatan membaca sebagai salah satu sumber INPUT OTAK ANAK-ANAK kita.
Kosa kata apa yang kita input, akan sangat mempengaruhi mereka. Oleh sebab itulah orang tua sangat-sangat penting memahami CARA BAGAIMANA agar bisa meng-input otak anak-anaknya sesuai dengan cara kerja otak mereka.
Mudah-mudahan ebook belajar membaca dan bahan-bahan atau alat-alat belajar yang kami sediakan untuk anda bisa menjadi salah satu sarana efektif bagi orang tua yang peduli dengan masa depan anak-anaknya.
Di dalam ebook itu akan diberikan cara-cara yang efektif menjadikan kegiatan membaca, bukan hanya untuk BISA MEMBACA, melainkan justru UNTUK INPUT KEPRIBADIAN sekaligus MENGAKTIFKAN OTAK BELAJAR mereka, dengan cara yang tidak akan merusak kesenangan anak terhadap kegiatan tersebut. Bahkan mereka sangat haus, sangat nyaman, sangat alami. Amin

PENTINGNYA PERAN ORANG TUA KEMBANGKAN FUNGSI OTAK TENGAH

Peran orang tua sangat penting dalam membantu anak mengembangkan fungsi otak tengah.ini merupakan modal utama apalagi pengembangan midbrain memerlukan perasaan aman dan kepercayaan diri si anak. Sikap dan perilaku orangtua kerap menjadi contoh dan panutan bagi si anak. Perlakuan ayah dan ibu akan menentukan kata-kata anak. Dan hasil yang dicapai jauh lebih efektif daripada bila kata-kata itu diucapkan orang lain. Karena itu orang tua harus belajar mengungkapkan perkataan-perkataan yang terpuji dan pasti
Di rumah, orang tua dapat melatih otak tengah anak-anaknya secara kontinyu dengan banyak cara, misalnya dengan mengajak anak bermain dan bernyanyi. Memunculkan suasana rumah yang menyenangkan dan membahagiakan dalam keluarga dan pada anak merupakan langkah yang kondusif bagi berkembangnya otak tengah.
Buatlah suasana hati si anak tetap bagus. Dengan demikian tidak ada jarak antara otangtua dengan anak, sehingga anak dapat mencurahkan semua isi hatinya kepada orangtua. Bila sudah tercapai demikian, barulah orang tua dapat membangun karakter dan percaya diri si anak. Anak akan menjadi lebih berani mengekspresikan dirinya dan tidak tertutup lagi. Yang penting orang tua harus menyisihkan waktu sedikitnya 20-30 hari untuk membantu anak berlatih setiap hari hanya memerlukan latihan selama 15-30 menit
Jangan lagi ada alas an sibuk ini-itu bila dalam 30 hari tersebut dapat membuat anak memperoleh manfaat seumur hidupnya. Mengapa orang tua tidak bersedia meluangkan waktu.

NILAI RAPOR BUKAN UKURAN

Orang tua sebaiknya tidak berpatokan hasil akademis sekolah sebagai satu-satunya ukuran yang dipakai atas hasil dari aktivasi otak tengah.
Kerap bayak orang tua berfikir bila sudah mengikuti pelatihan otak tengah prestasi di sekolah dengan sendirinya akan meningkat. Karena itu tak sedikit orangtua yang menaruh harapan keliru saat mendaftarkan anaknya untuk mengikuti pelatihan otak tengah. Sehingga tak heran pula di antara mereka meninginkan nilai akademis anaknya akan meningkat, bahkan menduduki rangking teratas di sekolah.
Itulah sebabnya ada saja orangtua yang mengungkapkan kekecewaannya karena nilai di rapor ditak menunjukkan peningkatan, setelah tiga bulan lebas dari pelatihan midbrain.
Meski dalam pelatihan otak tengah dijanjikan banyak hal salah satunya meningkatkan konsentrasi dan kemampuan belajar. Tapi bila tidak didukung dengan latihan terus menerus tentu saja semua akan sia-sia.
Secara teori nilai di sekolah seharusnya meningkat setelah anak mengikuti pelatihan mengingat aktivasi otak tengah membuat memori dan konsentrasi anak meningkat. Namun kenyataannya banyak factor yang menghambat peningkatan akademis yang diharapkan
Ada banyak factor yang memengaruhi selain pelatihan semata. Bisa jadi masalah keluarga, suasana keluarga yang tidak menyenangkan anak terlalu banyak main game facebook internet daripada belajar
Sehingga anak-anak lebih mudah mengingat permainan computer dari pada mengingat pelajaran di sekolah yang seringkali membosankan. Seharusnya banyak sekali potensi yang bisa digali setelah anak mengikuti pelatihan otak tengah, karena itu orangtua sebaiknya tidak berpatokan pada hasil akademis sekolah sebagai satu-satunya ukuran yang dipakai atas hasil dari aktivasi otak tengah.
Orangtua sebaiknya tidak hanya berpatokan pada nilai sekolah anak. Masih banyak potensi anak yang bsia dikembangkan selain nilai akademisnya. Apalagi system pendidikan diindonesia saat ini masih lebih menitikberatkan pada kemampuan otak kiri yang lbih pada persoalan matematis dan analisis semata
Sementara otak kanan yang lebih banyak berperan dalam bidang kreativitas tidak banyak digarap serius akibatnya rasa perasaan emosi dan hal-hal yang terkait dengan keindahan sopan santun etika menjadi dilalaikan.

Bullying, penyebab menurunnya prestasi belajar

Mungkin kita tidak menyadari bahwa pernah atau bahkan kerap melakukan tindakan kekerasan terhadap anak-anak. Bahkan mungkin guru dan teman teman anak kita tanpa kita ketahui melakukan hal yang sama. Tahu-tahu muncul  gejala yang membingungkan atas buah hati kita. Si kecil sering menangis tidak mau sekolah, minder, tidak bisa konsentrasi dalam belajar, prestasi belajar menurun, dan masih banyak lagi gejala kurang menyenangkan lain.
Bisa jadi, tindak kurang menyenangkan ini bukan berupa kekerasan fisik, melainkan kekerasan mental atau non fisik. Inilah yang disebut dengan bullying. Andrew Mellor, pakar masalah bullying dari The Scottish Council, menjelaskan bahwa bullying merupakan segala bentuk perbuatan yang mengakibatkan seseorang secara signifikan terluka fisik ataupun fisiknya.
Secara lebih komplit, bullying diartikan sebagai penyalahgunaan kekuasaan atau kekuatan ayng dilakukan seseorang atau kekuatan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang terhadap seseorang atau kelompok lain yang dilakukan berulang kali dengan sengaja dengan tujuan berbuat korban menjadi depresi dan tidak berdaya
Kerap Tak Disadari
Bullying kerapkali terjadi pada anak-anakm terutama pada mereka yang memiliki posisi lemah, yang dianggap bodoh, cacat, lemah fisik dan lain sebagainya. Sayangnya, tidak semua pihak yang melakukan bullying menyadari bahwa itu merupakan tindak kekerasan yang memiliki efek jangka panjang.
Survey yang dilakukan oleh Yayasan Sejiwa terhadap guru-guru di tiga SMA di dua kota besar di pulau jawa menunjukkan bahwa satu dari lima orang guru menganggap bahwa penggencetan dan olok-olok yang dilakukan adalah hal yang biasa dalam kehidupan remaja dan tidak perlu diributkan lagi. Satu dari empat guru berpendapat bahwa sesekali mengalami penindasan tidak akan berdampak buruk pada kondisi psikologis siswa.
Kebanyakan anak memang tidak merasa bahwa bullying bisa menimbulkan masalah. Hal ini dianggap sekedar olok-olok belaka, dan ada kepuasan tersendiri setelah melakukan bullying begitu juga dengan pihak sekolah. Ada beberapa sekolah yang menganggap perilaku tersebut biasa-biasa saja. Akibatnya, bullying menjadi masalah kekerasan yang tersembunyi di sekolah. Ini tentu saja merupakan keadaan yang memprihatinkan.
Turunkan Prestasi Belajar
Bila tidak disadari dan diwaspadai, bisa jadi bullying akan tersistem dan tindakan ini akan menyebabkan beragam masalah psikis yang mengganggu jiwa anak. Menurut Diena Trigg dari Yayasan Sejiwa, bullying menghambat anak dalam mengaktualisasi dirinya. Bullying tidak member rasa aman dan nyaman, membuat anak merasa takut dan terintimidasi, rendah diri, serta tidak berharga. Anak korban bullying jiga sulit berkonsentrasi dalam belajar, menjadi enggan bersekolah karena sekolah menjadi tempat yang tidak aman. Akibatnya, prestasi belajar bisa merosot.
Anak bahkan enggan bersosialisasi dengan lingkungannya. Akibatnya, dia akan menjadi pribadi yang tidak percaya diri dan sulit berkomunikasi. “Bahkan mungkin pula ia akan menghilangkan rasa percaya pada lingkungan yang banyak menyakiti dirinya” ujar Diena.
Bila tidak dicermati dan dibantu untuk mengatasinya, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang negative pula. Pada akhirnya akan mengarap pada stress maupun depresi dan anak tidak dapat menaktualisasi dirinya dengan baik. Bagaimanapun rasa nyaman dan aman merupakan modal dasar bagi kita semua terutama anak-anak untuk bisa berkembangan dan tumbuh dengan baik.
Anak perlu diberi suasana yang aman yang dapat memberikan gambaran diri positif. Baik dirumah maupun disekolah. Disekolah anak hemdaknya mendapatkan penghargaan atas prestasi atau perilaku baik yang dibuatnya. Sebaliknya bila mendapat teguran dari guru, hendaknya diberi secara konstruktif dan interaktif, tidak dihadapan teman-temannya, kata Diena. Dengan begitu anak dapat mengaktualisasi dirinya dengan baik.
Jika hal ini sudah dilakukan, niscaya anak akan menjadi sosok yang percaya diri, cerita, mampu beradaptasi dengan lingkungannya, menghargai orang lain dan dirinya, mampu berpikir jernih, mengembangkan potensi dirinya dan dapat mengekspresikan dirinya secara maksimal.
Gejala dampak bullying
-          Mengurung diri
-          Menangis
-          Minta pindah sekolah
-          Konsentrasi anak berkurang
-          Prestasi belajar menurun
-          Tidak mau bermain/ bersosialisasi
-          Suka membawa barang-barang tertentu (sesuai yang diminta “bully”)
-          Anak jadi penakut
-          Marah-marah/ uring-uringan
-          Gelisah
-          Menangis
-          Berbohong
-          Melakukan perilaku bullying terhadap orang lain
-          Memar/ lebam-lebam
-          Tidak bersemangat
-          Menjadi pendiam
-          Mudah sensitif
-          Menjadi rendah diri
-          Menyendiri
-          Menjadi kasar dan dendam
-          Ngompol
-          Berkeringat dingin
-          Tidak percaya diri
-          Mudah cemas
-          Cengeng
-          Mimpi buruk
-          Mudah tersinggung
Ragam bullying
1.       guru menyuruh anak yang terlambat datang membersihkan WC bila itu tidak ada aturan dalam sekolah.
2.       Adik kelas harus menunduk ketika bertemu kakak kelas karena tradisi
3.       Seorang anak diolok-olok oleh sekelompok temannya sehingga ia khawatir masuk sekolah
4.       Menampar seseorang tanpa alasan yang jelas
5.       Menghasut orang lain agar seseorang dijauhi
6.       Menyebar fitnah mengenai murid yang tidak disenangi
7.       Pengeroyokan sekelompok kakak kelas karena mereka tidak suka gaya adik kelas
8.       Guru mengancam murid yang dianggap bodoh dengan mengatakan “kamu akan saya buat tidak naik kelas”
9.       Berjalan di lorong sekolah dan diolok-olok oleh seseorang atau sekelompok murid yang lain
10.   Dicegat tanpa alas an yang jelas hanya untuk diperolok atau sedang dipermainkan
11.   Anak dipaksa masuk kelompok tertentu
12.   Guru menegur murid dengan nada tinggi (jika dilakukan berulang dan sengaja)
13.   Memarahi murid dengan kata kata kasar
14.   Menghukum murid untuk berdiri di depan kelas
15.   Menyindir
16.   Pemalakan oleh kakak kelas sampai adik merasa stress
17.   Membanding-bandingkan dengan kakak atau adik
18.   Memukul jika anak tidak menuruti perkataan orang tua
19.   Tidak member kesempatan anak untuk berargumen
20.   Memberikan cap/label pada anak
Contoh lain bullying
Menampar, menimpuk, menginjak kaki, menjegal, meludahi, memalak, melempar dengan barang, menghukum dengan berlari keliling lapangan, menghukum dengan cara push up, menolak.
Bullying verbal
Ini jenis bullying yang juga bisa terdeteksi karena bisa tertangkap indra pendengaran kita. Contohnya memaki, menghina, meneriaki, mempermalukan didepan hokum, menuduh, menyoraki, menebar gossip, memfitnah, menolak.
Contoh kata-kata
“Goblok lo”
“Jayus lo” (norak/ nggak asik)
“Gendut lo”
“Cungkring lo” (kurus kering)
“sotoy lo “ (sok tahu)
“Cupu lo” (Culun punya)
“Liburan gak kemana-mana ya?”
“emang kamu pernah ke luar negeri?”
“Dasar lemot lo”
Dan juga kalimat / pernyataan yang sifatnya menuduh, membentuk, menggosipkan, memfitnah

Bullying mental/ psikologis
Ini jenis bullying yang paling berbahaya karena tidak tertangkap oleh mata atau telinga kita jika kita tidak cukup awas mendeteksinya. Praktik bullying ini terjadi diam-diam dan diluar radar pemantauan, contoh:
-          Memandang sinis
-          Memandang penuh ancaman
-          Mempermalukan di depan umum
-          Mendiamkan
-          Mengucilkan
-          Meneror lewat pesan pendek atau email
-          Memandang yang merendahkan
-          Memelototi
-          Mencibir

BELUM PERCAYA BAHWA OTAK TENGAH BISA DI AKTIVASI? COBALAH TES DENGAN ALAT YANG DISEBUT TMS

Kalau belum ada bukti yang bisa dilihat dengan mata kepala sendiri mungkin banyak orang tidak mau percaya. Tentu saja Itu wajar terjadi. Demikian halnya dengan persoalan aktivasi otak tengah. Banyak orang bisa jadi belum merasa puas dengan bukti-bukti yang sudah sering ditunjukkan seperti misalnya kemampuan membaca dengan mata tertutup, mengumpulkan kartu-kartu remi dalam satu kelompok warna, menggambar atau mewarnai gambar dengan mata tertutup dan lain sebagainya.
Karena itu, ahli saraf dari Rumah Sakit Duren Sawit Jakarta Dr. Agus Solichien Setiawan Sp.S, MARS memberika satu bukti bahwa otak tengah seorang anak telah diaktivasi dengan alat yang disebut TMS (Transcranial Magnetic Stimulation). Ini merupakan alat pengukur keberhasilan aktivasi otak tengah. Sebuah alat dengan amplifier dank koil yang dapat memancarkan magnet sampai 2.5 Tesla (disimbolkan T yaitu Satuan Internasional Intensitas magnet). Magnet ini bisa menembus batok kepala, magnet ini akan diterima sel-sel otak dalam intensitas listrik lemah. TMS ini akan merekam kecepatan transmisi elektrik di jalur-jalur transmisi/ kabel-kabel tadi. TMS akan merekam kecepatan ransmisi otak anak sebelum dan sesudah aktivasi untuk memberikan data empiris obyektif medis kepada para orang tua.
Semakin cepat transmisi di kabel-kabel serabut tadi, maka koneksitas otak kiri dan otak kanan juga makin cepat. Keseimbangan otak kiri dan kanan itu yang mau dituju dengan aktivasi otak tengah sehingga menjadi satu kesatuan yang bekerja bersama. “Sebagian besar yang diaktivasi saya ukur transmisi elektrik otaknya menggunakan TMS tadi sebelum dan sesudah aktivasi, ada perbedaan. Yang pasti perbedaan pada kecepatan transmisi elektrik di serabut-serabut/ kabel kabel sel otak tadi “ ujar Dr. Agus.
TMS Dinyatakan Aman
TMS bukan semata sebagai alat diagnosa aktivitas otak tetapi juga sebagai alat terapi. Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa semua aktivitas dalam otak manusia adalah lompatan/ impuls listrik dari satu sel otak ke sel otak yang lain. Ketika manusia mengalami gangguan fungsi otak, berarti ada transmisi impuls listrik yang tidak lancar. Maka dengan terapi TMS ini kemacetan-kemacetan transmisi listrik di otak manusia distimulasi supaya menjadi lancar kembali.
Penggunaan TMS tidak menyakiti kita. Ini adalah alat yang sifat penggunaannya non-invasif bertujuan menguatkan atau melemahkan neuron otak. TMS menggunakan induksi elektromagnetik yang menghasilkan medan magnet, magnet dipancarkan di otak manusia melalui koil magnet ini akan memberi stimulasi pada aktivitas otak. Ini dapat diatur sesuai dengan kebutuhan diagnosa maupun terapi. TMS tidak bersinggungan langsung dengan kulit kepala. Metoda dan alat TMS relatif aman dan sdah mendapatkan rekomendasi United States FDA (Food and Drug Administration).
Latar belakang kemunculan metode TMS diawali oleh penelitan arus Eddy atau juga disebut arus Foucault atau istilah penemuan induksi elektromagnetik yang menghasilkan medan magnet. Dalam elektronika medan magnet dapat tercipta karena induksi elektrik. Penemuan arus Eddy ini sudah tertulis sejak abad 20.
Penelitian TMS pertama kali berhasil dilakukan oleh Anthony Barker bersama kampus studinya di Sherffield England di tahun 1985. Ini pertama kalinya TMS didemonstrasikan untuk stumulasi motor cortex/ sensor motorik manusia. Penggunaan TMS lebih aman dibandingkan dengan stimulasi elektrik langsung kepada otak manusia yang menyebabkan ketidaknyamanan pada pasien. Untuk terapi psikologis dan penyakit TMS efektif untuk terapi stoke dan Parkinson. Beberapa kasus pasien ADD/ ADHD (autis) juga bisa baik berkat TMS
Beberapa kasus pasien autis Dr. Agus biasa diatasi cukup dengan 5-9 kali terapi dengan TMS, Hasilnya sangat efektif dibandingkan dengan latihan-latihan konvensional untuk membentuk pola pikir pasien autis yang selama ini kita ketahui.
Diluar negeri TMS sudah banyak digunakan di klinik-klinik kesehatan otak karena merupakan terobosan baru dalam bidang klinik otak dan saraf. Di Indonesia belum banyak rumah sakit yang memiliki fasilitas TMS ini. Untuk kasus-kasus psikis, TMS terbukti membantu mengurangi depresi. Dengan terapi TMS pengobatan depresi menjadi lebih efektif karena setelah beberapa kali terapi, pasien tidak lagi mengalami depresi meski pengobatan TMS dihentikan selama beberapa bulan kemudian. Efek samping yang diakibatkan oleh TMS ini hanya sakit kepala dan ketidaknyamanan sementara untuk beberapa pasien.
Beberapa Negara yang telah menggunakan TMS dalam pengobatan klinis antara lain Kanada, Australia, New Zealand, Uni Eropa, Israel, Amerika, dan Indonesia.
TMS memberikan kontribusi tersendiri dalam bidang pengobatan gangguan fungsi otak mengurangi efek penggunaan obat-obatan atau bahkan menghilangkan ketergantungan penggunaan obat-obatan untuk pengobatan.